1.METODE

Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia.oleh sebab itu hamper semua Negara menempatkan variable pendidikan sebagai sesuatu yang openting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan Negara .Begitu juga bangsa Indonesia menempatkan pendidikan se4bagai suatu yang penting dan uatama.Hal ini dapat dilihat dari isi pembuklaan UUD 1945 aliniea ke IV yang m,enegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangasa Indonesia adalah Mnecerdaskan kehidupan bangsa.


Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru dengan program pembelajarannya yang mana langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan tehnologi sekaligus mendidik dengan nilai – nilai positif melalui bimbingan keteladanan.Dalam artian guru mampu menyampaikan bahan pelajaran diserap oleh para peserta didik dengan baik.

Penciptaan harapan seperti itu merupakan kajian dari salah satu metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar haruslah tepat sesuai dengan pokok bahasan yang akan dibahas pada saat berlangsungnya pelajaran.Sebab metode merupakan serangkaian prilaku guru dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan para peserta didik mencapai tujuan tujuan belajarnya.

Misalnya dalam metode ekspositori , metode ini sama seperti halnya dengan metode ceramah, yaitu terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi informasi, guru menyiapkan materi dan contoh soal untuk disampaikan di depan kelas, sedangkan sisiwa duduk, mendengar lalu mencatat semua materi disajikan guru.Dalam hal ini peran siswa kurang terlihat, siswa tidak aktif bertanya ketika guru mempersilahkan siswa untuk menanyakan materi yang belum dimengerti.Umumnya siswa lebih memilih diam dan menerimah apa adanya yang disampaikan oleh guru dan mengerjakan soal – soal secara individu.bagi siswa pandai untuk tidak bertanya, kemungkinan sudah mengerti tentang materi yang disampaikan .Namun bagi siswa kurang yang belum mengeri memilih untuk tidak bertanya karena malu dikatakan bodoh atau takut jika berbuat kekeliruan.

Pembelajaran ini terkesan hanya milik siswa yang pandai karena mereka sanggup menerima materi yang disampaikan guru.Siswa yang tidak berani bertanya kepada guru menjadi cemas karena takut tidak bias menjawab atau mengerjakan tugas yang diberikan guru.Akibatnya ekspositoriakan terasa monoton dan membuat siswa bosan serta kurang termotivasi untuk belajar atau bekerja di kelas sehingga siswa tidak mengoptimalkan seluruh potensi yang ada pada dirinya.

Seperti halnya yang terjadi jika metode seperti ini yang digunakan kita dapat melihat bahwa setelah guru menerangkan materi , guru mempersilahkan siswa untuk bertanya jika mereka belum mengeri mengenai materi yang baru saja diterangkan, Tapi beberapa siswa menjawab sudah mengerti sedangkan siswa yang lain hanya diam saja. Setelah itu guru memberikan tugas , tugas yang dikerjakan oelh siswa yang tidak pernah bertanya ternyata soal – soal tersebut tidak dapat dikerjakan dengan baik dan benar jika siswa tersebut tidak diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan teman yang sudah mengerti tadi yang lebih banyak bertanya.Ternyata dalam penggunaak metode sep[erti ini maka kita tidak akan mendfapatkan adanya ketelibatan siswa secra langsung untuk dapat memahami suatu materi yang disampaikan oleh guru tersebut.

Salahsatu metode yang juga punya kelemahan misalnya metode tutor sebaya, yang mana metode tutor sebaya ini merupakan modifikasi dari cara belajar kelompok yaitu suatu pengelolaan belajar yang memanfaatkan sesame siswa sebagai sumber belajar.yaitu siswa yang mempunyai kemampuan baik atau pandai untuk menjadi tutor bagi temannya yang mempunyai kemampuan kurang .Jadi dalam hal ini sesame siswa bias berfungsi sebagai guru. Tetapi dalam metode ini juga mempunyai kelemahan yaitu:

* Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius

* Ada beberapa anak malu bertanya karena takut rahasianya diketahui temannya

* Pada kelas-kelas tertentu kegiatan tutoring ini sulit dilaksanakan karena ada perbedaan kelamin antara tutor dan yang diber tutor

Untuk mengatasi kelemahan cara belajar Tutor sebaya , hendaknya guru mengatur suasana sedemikian rupa misalnya;

* Guru memberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan, apa yang harus dilakukan oleh tutor juga apa yang diberi oleh tutor

* Guru sebaiknya tidak hanya memilih siswa yang terpandai saja sebagai tutor , mel;iankan memberikan kesempatan kepada semua siswa yang berdasarkan hasil seleksi memiliki kemampuan ditasa rata-rata.

* Supaya kegiatan efektif, pengelompokkan siswa dibagi ke dalam kelompokm kecil maksimal 5 orang dimana dalam satu kelompok minimal ada 2 oran tutor

* Siswa yang pasif didorong oleh guru untuk aktif bertanya dan memeinta penjelasan.

Dengan mengatasi kelemahan-kelemahan ini, diharapkan cara belajar tutor sebaya dapat terlaksana dengan baik dan dapat dijadikan salah satu alternative dalam memilih metode pengelolaan belajar yang benar-benar dapat membuat siswa senang untuk belajar dan tidak merasa gagal.

2. Media

Salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima yaitu siswa

Dibawa ini contoh media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses

Belajar mengajar yaitu;

* Peta

* Grafik

* Gambar

Media yang tersebut diatas ini biasa disebut dengan media visual,
Ada beberapa prinsip umum yang perlu di ketahui untuk penggunaan efektif media berbasis visual sebagai berikut :
• Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunkan gambar garis, karton, bagan, dan diagram.
• Visual digunakan untuk menekan informasi saran sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik.
• Gunakan grafik untuk di gamabar.
• Konsep-konsep visual itu secara berdampingan.
• Tekanan kejelasan dalam ketepatan dalam semua visual
• Hindari vusual yang tak berimbang
• Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca.
Media yang disebutkan diatas biasanya juga dapat membingunkan siswa jika media tersebut yang di gunakan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan yang ada sekarang , misalnya dalam media peta , jika kita akan mengajarkan perkembangan muka bumi maka perlu kiranya kita menampilkan peta peta yang mulai dari benua tunggal sampai pada peta yang di gunakan sekarang bsehingga siswa tidak kebingungan jika guru hanya bercerita lewat peta yang ada sekarang ,dengan demikian maka pengaruhb dalam proses belajar mengajar kadang media itu menjadikan sebuah problematika dalam menyampaikan materi pelajaran,

3. Penguasaan Materi

Salah satu ciri pembelajaran efektif adalah mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
Tugas penting guru pada pendidikan formal di sekolah di antaranya adalah membantu peserta didik untuk mengenal dan mengetahui sesuatu, terutama memperoleh penge¬tahuan. Dalam pengertian konstruk¬tivisme, pengetahuan itu merupakan "proses menjadi", yang pelan-pelan menjadi lebih lengkap dan benar. Pengetahuan itu dapat dibentuk secara pribadi dan peserta didik itu sendiri yang membentuknya.
Peran guru atau pendidik adalah sebagai fasilitator atau moderator dan tugasnya adalah merangsang atau memberikan stimulus, membantu peserta didik untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengertiannya. Guru juga meng¬evaluasi apakah gagasan peserta didik itu sesuai dengan gagasan para ahli atau tidak. Sedangkan tugas peserta didik aktif belajar, mencerna, dan memodifikasi gagasan sebelumnya
Guru tidak menjadi diktator yang hanya menekankan satu nilai satu jalan keluar, tetapi lebih demokratis. Dalam KTSP, pendidikan yang benar harus membebaskan peserta didik untuk berpikir, berkreasi, dan berkembang.
Implementasi KTSP sebenarnya membutuhkan penciptaan iklim pen¬didikan yang memungkinkan tumbuhnya semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru, mulai dari rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Hal ini berkaitan adanya pergeseran peran guru yang semula lebih sebagai instruktor atau selalu memberi instruksi dan kini menjadi fasilitator pembelajaran. Guru dapat melakukan upaya-upaya kreatif serta inovatif dalam bentuk penelitian tindakan terhadap berbagai teknik atau model pengelolaan pembelajaran yang mam¬pu menghasilkan lulusan yang kompeten.
guru mengajar supaya peserta didik memahami yang diajarkan dan mampu memanfaatkannya dengan menerapkan pemahamannya baik untuk memahami alami lingkungan sekitar maupun untuk solusi atau pemecahan masalah sehari-hari. Kegiatan mengajar bukan sekedar mengingat fakta untuk persediaan jawaban tes sewaktu ujian. Akan tetapi, kegiatan mengajar juga diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan, meningkatkan keteram¬pilan, dan menumbuhkan sejumlah sikap positif yang direfleksikan peserta didik melalui cara berpikir dan cara bertindak atau berperilaku sebagai dampak hasil belajamya
. Guru perlu menyediakan beragam kegiatan pembelajaran yang berimplikasi pada beragamnya pengalaman belajar supaya peserta didik mampu mengembangkan kompetensi setelah menerapkan pemahamannya pengetahuannya. Untuk itu strategi belajar aktif melalui multi ragam metode sangat sesuai untuk digunakan ketika akan menerapkan KTSP.

Sehingga itulah guru harus memiliki banyak pengetahuan yang lebih, karena melihat dengan penerapan KTSP maka seorang guru harus dituntut lebih banyak berdialog langsung kepada siswa , baik itu akan menanyakan hal-hal yang memang belum dimengeri siswa atau siswa itu sendiri ingin mendapatkan lagi informasi yang langsung dari guru tersebut

Sama halnya dalam pelajaran geografi seorang guru yang akan mengajarkan bidang studi geografi ,Kita sebagai guru geografi kadang kita memposisikan geografi sebagai pendidikan yang terbebas dari tugas pembinaan karakter bangsa , terlebih lagi dari tugas-tugas untuk mengembangkan nilai nasionalisme atau kesadaran berkonstitusi. Terlebih dalam dua tahun ini guru geografi pun terjebak pada lubang yang lebih sempit yaitu sekedar mengejar angka target sebagaimana ditentukan untuk batas kelulusan ujian nasional.

Dalam hal ini seorang guru geografi haruslah dapat memahami semua apa peran dan fungsi geografi dalam pembinaan karakter bangsa, khususnya nilai nasionalisme dan kesadaran berkonsitusi seperti mempelajari keaneka ragaman fenomena geosfer,maka geografi harus mampu menjadi pelopor pengembangan pendidikan multi cultural. Melalui pendidikan ini geografi memiliki bahan dasar tentang obyek material geografi yaitu tentang kebinekaan potensi bangsa sekaligus membangkitkan kesadaran warga Negara tentang bhinneka tunggal ika.Oleh karena itu pendekatan pendidikan multicultural menjadi penting dalam proses pendidikan geografi .

Selaras dengan perkembangan kebijakan pendidikan, yaitu adanya otonomi pendidikan,maka setiap satuan pendidikan diberi kewenangan untuk mengembangkan Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Peluang ini perlu dimanfaatkan oleh para guru di lapangan untuk mengembangkan kurikulum pendidikan geografi dengan berorientasi pada pendidikan nilai . Setiap ajuan pengajran geografi diharapkan dapat menyertakan tujuan pendidikan nilai georafi itu sendiri .Sehingga pada akhirnya pendidikan geografi disatuan pendidikan tidak hanya bersifat kognitif namun mampu memberikan kesadaran geografis dan ketrampilan geografis bagi peserta didik.

Praktek pengajaran pada mata pelajaran geografi yang berkembang saat ini baru sampai pada transper pengetahuan geografi, guru belum mampu sepenuhnya mentransper tentang sikap geografi dan ketrampilan geografi. Oleh karena itu tidak mengherankan bila kemudian melahirkan anak didik yang tidak memahami cara hidup di alam terbuka dan di dalam kota. Kasus anak-anak yang mati lemas ketika melakukan jelajah alam, membuang sampah sembarangan, menjual kekayaan kepada bangsa asing secara illegal membuat kerusakan alam, adalah contoh nyata dari lemahnya sikap geografi dan ketrampilan geografi. Kasus ini merupakan indikasi tidak maksimalnya nilai pengajaran geografi, sekaligus lemahnya kesadaran dan kecintaan terhadap kekayaan serta keanekaragaman alam Indonesia .

Maka guru geografi perlu memahami tentang pelajaran geografi sebagai sarana pembelajaran dalam memberikan pengetahuan,kesadaran dan ketrampilan hidup dalam dinamika dan keanekaragaman biosfer.Sehingga bukan hanya memahami aneka ragam fenomena geosfer namun bisa adaptasi dan dinamis dalam keanekaragaman hidup itu sendiri .

Pembelajaran hidup rukun dan adaptable terhadap dinamika keanekaragaman kehidupan merupakan modal penting dalam meningkatkan nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi. Obyek material geografi merupakan bahan dasar untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kekayaan alam Indonesia Selanjutnya pembelajaran geografi dituntut mampu merangsang, mendorong,meningkatkan dan mengembangkan sikap rasa cinta,peka,peduli dan tanggung jawab terhadap ekologi Indonesia.

4..Kurangnya pelatihan terhadap guru..

Pengembangan program pembelajaran merupakan salah satu cara untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang ada di Indonesia serta mendorong peningkatan profesionalisme guru.dengan pengembangan program pembelajarn diharapkan guru mengetahui Implementasi KTSP, Program Tahunan,rogram Semester, Program Modula tau pokok bahasan , serta Program mingguan dan harian, program remedial; dan program Bk , pengembangan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Sebagaimana dikatakan bahwa Pendidikan adalah Investasi Sumber Daya Manusia jangka panjang yang mwempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban ,manusia di dunia,sehingga jika seorang guru dalam pengembangan program pembelajaran kurang memahami nya maka guru tidak akan mampu mengetahui bagaimana karakteristik kurikulum yang mencakup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasan bagi pengguna ide di lapangan, dan bagaimana seorang guru akan mampu merealisasikan kurikulum dalam pembelajaran tersebut,.

Seperti dalam KTSP dikatakan bahwa peran guru hanyalah sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar, yang dituntut bahwa guru tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinanannya, guru dapat lebih mendengarkan peserta didik, guru mau dan mampu menerimah ide peserta didik yang inovatif dan kreatif, guru Harus lebih meningkatkan nya terhadap hubungan dengan peserta didik, guru dapat menerimah balikan baik yang positif maupu8n yang negative, guru harus toleransi terhadap kesalahan yang di perbuat peserta didik Dan guru harus menghargai prestasi peserta didik..Dengan demikian maka guru harus labih mampu memahami pengembangan program pembelajaran.

Dengan demikian jika guru kurang dalam pemahaman tentang seluruh rangkaian perangkat pembelajaran maka akan menyebabkan di dalam mengimplementasikan program pembelajaran akan tidak sejalan dengan kurikulum yang berlaku pada saat itu. Misalnya dalam pembuatan program tahunan, program semester, rincian minggu efektif , Materi pelajaran dan program yang lainnya seperti adanya program remedial dan pengayaan maka fungsi-fungsi dari semua itu tidak dapat diimpelementasikan dengan baik.sebagaimana kita melihat fungsi dari RPP yaitu untuk mempermudah, memperlancar, dan meningkatkan hasil proses belajar mengajar, dan juga dengan penyusunan RPP secara professional, sistematis dan berdaya guna maka guru akan mmpu melihat , mengamati,menganalisis dan memperediksi program pembelajaran sebagai kerangka kerja logis dan terencana.\

Sebagaimana dalam KTSP memuat mengenai perangkat pembelajarannya tentang Komponen silabus seperti Standar Kompetensi, Kemamp[uan dasar, Materi pembelajaran, Strategi pengembangan pengalaman bel;ajarbsiswa , Alokasi waktu,Sumber belajar/ Bahan rujukan.Kesemuanya ini guru haruslah mampu mengetahui dengan benar karena melihat daripada manfaat silabus sebagai pedoman sumber pokok dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, mulai dari pembuatan rencana pembelajaran , pengelolaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan system penilaian.Jadi setiap point dalam komponen silabus seharusnya guru mampu menerapkan dan melaksanakan dengan baik agar nantinya dapat terwujud tujuan dari Kurikulum yang dimaksud yaitu KTSP.Tetapi kenyataannya sebagian guru belum mengetahui yang semestinya tentang bagaimana sebenarnya KTSP itu, ini bisa disebabkan karena tidak meratanya pelatihan –pelatihan yang dilaksanakan sampai kepolosok desa, sehingga kadang seorang guru belum pernah pendapat pelatuhan mengenai kurikulum tersebut langsung saja melaksanakannya dalam proses pembelajaran , sehingga seperti inilah yang menyebabkan kuramgnya ketercapaian tujuan dari setiap kurikulum tersebut , sehingga masih sangat perlu peltihan selalu diadakan demi mempertemukan persamaan persepsi tentang sesuatu hal yang dapat mendukung daripada kelancaran dalam proses pembelajaran, yang nantinya akan menghasilkan guru yang siap dalam melaksanakan kurikulum yang berlaku pada saat itu dengan sendirinya akn menghasilkan pula anak didik yang berkwalitas.

5. Kurangnya penguasaan terhadap pemanfaatan Tehnologi Informasi dan komunikasi

Visi masa depan sangat ditentukan untuk melihat dan menyusun langkah-langkah yang relevan untuk mempersiapkan manusia dan masyarakat Indonesia menghadapi transformasi masyarakat masa depan yang mengubah bentuk-bentuk kehidupan manusia yang diperlukan untuk dapat mengikuti perubahan sosial ekonomi politik masa depan dalam suatu dunia yang terbuka. Masa depan yang ingin diciptakan melalui pembangunan nasional kita adalah membentuk suatu masyarakat industry yang didukuing oleh penguasaan dan pengembangan tehnologi serta ilmu pengetahuan..

Penggunaan perangkat tehnologi informasi interaktif seperti CD room, multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video.Ynag lebih menarik lagi dengan adanya tehnologi informasi dan internet, ilmu pengetahuan tidak lagi terpusat pada bangku sekolah formal.Seeorang akan dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan dari mana saja.Hal ini merupakan tantangan terakhir bagi dunia pendidikan formal.

Kemajuan tehnologi komunikasi akan memasuki proses pembelajaran manusia abad 21 termasuk Indonesia .Dunia tanpa batas, dunia tanpa sekat, begitu pila proses belajar akan mengalami perubahan total.Kita akan mengenal sekolah tanpa dinding bahkan sekolah tanpa ruang sekolah ,dapat pula diartikan bahaw proses pembelajaran di masa depan dengan masuknya tehnologi komunikasi,. Akan merobek –robek konsep proses pembelajaran tradisional karena akan menuntut kemampuan belajar mandiri dari peserta didik .Belajar mandiri merupakan inti dari proses pembelajaran masa depan yang serba cepat , serba insentif dan serba pu to date.

Kesiapan para pendidik atau guru dalam memanfaatkan tehnologi informasi dan komunikasi menuai banyak persoalan .Setidaknya ada tiga persoalan utama bagi gurui dalam memanfaatkan tehnologi informasi dan komunikasi yaitu:

* Kemampuan memiliki tehnologi informasi dan komunikasi.Persoalan ini sangat dimaklumi karena berhadapan dengan tehnologi inform,asi dan kominikasi seorang guru harus berusaha memiliki kemampuan untuk membeli peralatan yang cukup mahal,

* .Kemampuan mengoperasikan tehnologi informasi dan kominikasi, keterbatasan kemampuan guru untuk mengadakan perangkat tehnologi informasi dan komunikasi dapat diatasi melalui pengadaan di sekolah meskipun dalam jumlah yang terbatas , tetapi persoalannya bukanlah semudah itu, guru tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengoperasikan.

* Kemampuan mengikuti perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi, selain kemampuan memiliki dan mengoperasikan , penggunaan tehnologi inforamasi dan komunikasi memerlukan pertimbangan yang matang agar segala sesuatu yang dirancang saat ini tidak ketinggalan setelah diimplementasikan.Pemilihan system yang mengikuti standard internasional merupakan pertimbangan utama dalam perancangan.Lingkungan organisasi pendidikan yang besar dan melibatkan bagian-bagian yang beragam pasti akan membawa kearah rancangan yang sangat bervariasi, untuk memenuhi kebutuhan bagian – bagian organisasi yang sangat tinggi variasinya.,

Jika seorang guru kurang mampu menguasai tehnologi tersebut maka akan berpengaruh terhadap luasnya wawasan seorang dengan seorang siswa, hal ini akan dapat menyebabkan seorang siswa akan lebih banyak dan lebih luas wawasan di banding seorang guru yang dalam hal ini gurui yang kurang mampu dalam pwenguasaan tehnologi tersenut Misalnya seorang siswa yang tekun dan agresif ingin mengetahui lebih banyak tentang hal-hal yang ada hubungannya dalam materi pembahasan yang akan dibahas maka siswa tersebut akan mencarinya lewat jaringan internet , sementara seorang guru karena ketidak mampuannya dalam menggunakan tehnologi tersebut maka akan meyebabkan guru ketinggalan atau kalah dalam melengkag dengan siswa tersebut , Jika hal ini terjadi maka siswa akan lebih menganggap bahwa tanpa kehadiran seorang guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar masih tetap dapat berlangsung, sehingga akan mengakibatkan ketidak percayaan seorang siswa kepada gurunya.

Sementara guru adalah orang yang paling penting statusnya didalam melakukan kegiatan belajar mengajar karena guru memegang tugas yang amat penting, yaitu mengatur dan mengemudikan bahtera kehidupan kelas, bagaimana suasana kelas berlangsung merupakan hasil kerja guru.

6,Evaluasi / Penilaian

Evaluasi telah lama dikenal oleh manusia , sejak adanya manusia atau usianya sama dengan usianya manusia itu . Hal ini ada diakibatkan oleh keinginanan manusia untuk mengetahui perkembangan suatu proses kejadian dan didorong oleh keinginan untuk membuat suatu putusan, hanya cara dan pendekatan yang berlainan dan belum tersusun dengtan rapi.

Dahulu hingga kini para pendidik dalam melakukan evaluasi / penilaian senantiasa didasarkan atas pertimbangan pribadi dan bersifat subyektif, dan untuk mengetahui berhasil atau tidaknya seseorang dalam pekerjaannya, sudah barang tentu memerlukan pengukuran.Dengan mengukur hasil pekerjaan , maka dapat diketahui batas kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentangt pengetahuan, keterampilan sikap dan nilai dalam penyelesaian suatu tugas yang dibebankan kepadanya.

Hasil yang diperoleh tentang kemampuan pribadi seseorang dengan orang lain berbeda – beda meskipun objek yang diukur itu sama, hal ini mungkin disebabkan oleh situasi dan kondisi yang mempengaruhi orang tersebut.setelah diperileh pengukuran , dapat dilakukan penilaian terhadap kemampuan, kesanggupan ,baik yang berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, keterampilansikap dan nilai. Hal ini dapat dijadikan sebagai data untuk mengetahui, pada bidang studi mana seorang anak mengalami kemajuan dan pada bidang studi yang mana siswa mengalami kemunduran di dalam pelajarannya, dengan maksud tersebut kita dapat mengetahui melalui nilai hasil belajar yang diperoleh.

Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru.

Hasil yang diperoleh siswa dari pekerjaannya ada 2 kemungkinan :

* Memuaskan

Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan maka halite menyenangkan tentulah kepuasan itu ingi diperoleh lagi pada kesempatan lain . Akibatnya siswa akan mempunyai motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat agar lain kali mendapat hasil yang lebih memuaskan lagi.Keadaan sebaliknya dapat terjadi yakni siswa sudah mersa puas dengan hasil yang diperoleh dan usahanya kurang gigih untuk lain kali.

* Tidak memuaskan

Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, ia akan berusaha agar lainkali keadaan itu tidak terulang lagi.Maka lalu ia belajar dengan giat .namun demikian keadaan sebaliknya dapat terjadi, ada beberapa siswa yang lemah kemauannya akan menjadi putus asa dengan hasil kurang memuaskan yang telah diterimah.

Jadi dalam hal ini juika seorang guru melakukan evaluasi kepada siswanya sebaiknya guru mengembalikan lembar pekerjaan siswa yang telah diperiksa sebab biasanya jika le,mbar ulangan siswa tidak pernah dilihat atau dikembalikan maka ini juga akan berpengaruh terhadap motivasi siswa untuk belajar jika kita melakukan evaluasi / penilaian yang berikutnya , sehingga siswa akan tidak lagi belajar untuk mempersiapkan diri menjawan soal pada waktu ulangan berikut5nya , dan kadang guru hanya memberikan nilai tanpa berdasarkan pada penilaian yang sebenarnya dan jika guru itu melakukan penilaian yang sebenarnya dan hasil dari penilaian tersebut tidak memuaskan terutama jika sudah sampai saatnya pada penaikan kelas maka hasil penilaian yang telah dibuat oleh seorang guru kadang tidak diterimah dengan baik oleh pihak sekolah sehingga ini nakan meyebabkan penilaian yang telah dibuiat oleh guru harus mengalami perubahan , dengan perubahan nilai yang sebenarnya nilai yang ada tidak sewajarnya didapatkan oleh siswa tersebut tetpai Karen dorongan dari atasan / kepala sekolah maka nilai itu harus berubah.

Terjadinya kasus seperti diatas maka dalam melakukan penilaian / evaluasi dalam hal ini ulangan kepada siswa ini akan menjadi sebuah problematika karena disisi lain kita ingin melihat keberhasilan siswa dan ketepatan metode dan materi seorang guru tetapi akan membuahkan kepada guru malas memeriksa akhirnya kepada siswa malas belajar,

7. Pengeloaan kelas

Pengelolaan kelas merupakan ketermpilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan , memahami, mendiaknosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan, bagaimana kita dalam manajemen kelas melihat sifat kelas, situasi kelas dan sebagainya.

Dengan harapan seorang guru mampu menyampaikan bahan pelajaran diserap oleh para peserta didik dengan baik , harapan seperti ini merupakan kajian dari pengelolaan kelas,Sebab pengelolaan kelas merupakan serangkaian prilaku guru dalam upanya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan para peserta didik mencapai tujuan-tujuian belajarnya secara efesien atau memungkinkan para peserta didik belajar dengan baik, Jadi jika seorang guru tidakl tepat dalam pengelolaan kelas maka dapat kita melihat bagaimana akan dapat tercipta dan terpelihara kondisi kelas yang memungkinkan para peserta didik mencapai tujuan –tujuan pembelajaran yang efesien atau memungkinkan para peserta didik belajar dengan baik.sehungga itulah seorang guru harus dituntut pemahaman tentang pengertian dan tujuan dalam pengelolaan kelas.

Di kelaslah segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan potensinya, kurikulum dengan segala komponennya , metode dengan pendekatannya, media dengan segala perangkatnya, materi dengan segala sumber belajarnya bertemu dan berinteraksi dalam kelas.Lebih lanjut hasil pembelajaran ditentukan pula oleh apa yang terjadi di kelas.

Dalam pengelolaan kelas, guru kadang susah dalam menciptakan dan mempertahankan ketertiban kelas, susah dalam menciptakan suasana kelas yang efektif yaitu dengan mengembangkan tingkah laku peserta didik yang didinginkan degan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan. Guru juga harus mampu mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim sosio- emosional kelas yang positif.

Jika seoarangb guru mampu melihat tujuan dari pengelolaan kelas yaitu dapat mewujudkan situasi dan kondisi kelas , baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.dan menhilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran, serta membimbing siswa sesuai dengan latar belakang social, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Seperti kita melihat munculnya masalah- masalah dalam kelas dapat bersumber dari individual dan masalah kelompok.misalnya masalah dalan individual yaitu:

* Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain

* Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan

* Tingkah laku yang bertujuan untuk menyakiti orang lain

* Peragaan ketidakmampuan

Sedangkan masalah-masalah dalam kelompok yang mungkin muncul dalam kelas seperti;

* Kelas kurang kohesif lantaran alas an jenis kelamin, suku, tingkatan social ekonomi dan sebagainya.

* Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya

* Kelas mereaksi negative terhadap salah seorang anggotanya

Jadi permasalahan seperti diataslah maka seorang guru sangat dituntut dalam pengelolaan kelas berusaha menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal sehingga terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efesien.Maka seorang guru harus mampu meningkatkan kesadaran diri sebagai guru dan juga meningkatkan kesadaran diri siswa tersebut, sehingga mampu mengenal dan menemukan alternative pengelolaan kelas.

8. Alokasi Waktu

Waktu yand sidiakan untuk mata pelajaran geografi di SMA kelas X hanyalah 1 jam sementara materi yang dituntut dalam kurikulum sangatlah luas cakupannya, sementara dikatakan dalam pertemuan tahunan IGI di Bandung 11 mei 2009 oleh Prof.Dr.Awan Mutakin bahwa Geografi harus mampu mendorong siswa memiliki pengetahuan geografi, sikap geografi, dan keterampilan geografi.

Dalam kelompok pengetahuan geografi, seseorang dapat menggambarkan,mengetahui,mendata,mengumpulkan , menganalisis, dan merekonstruksi fenomena geografi.Sedangkan dalam sikap geografi , orang dituntut bias hidup beradaptasi ,dinamis dan interaksi mutualis dalam keanekaragaman dan kedinamikan alam.Kemudian yang dimaksud dengan keterampilan geografi yaitu kemampuan seseorang untuk menjadikan geografi sebagai pengetahuan praktis dalam merekayasa kehidupan.Dalam keterampilan ini , seseorang perlu dibekali dengan geografi tehnik atau rekayasa geografisehungga mampu melakukan konservasi dan rehabilitasi alam dan kealaman.

Sementara dikatakan bahwa praktek pengajaran yang ada berkembang saat ini baru sampai pada transfer pengetahuan geografi, dua aspek yang lainnya belum banyak tersentuh.Oleh sebab itu maka perlulah kiranya pada pelajaran geografi di SMA terutama di kelas X harus harus mendapatkan penambahan jam belajar demi dapat menambah pemahan siswa dan terutama dalam merealisasikan pendapat Nursid Sumaatmajaya bahwa geografi itu memiliki lima nilai yakni nilai teoritis, nilai praktis, nilai edukasi, nilai filsafat dan nilai ketuhanan.Geografi memiliki nilai teoritis yaitu, geografi berusaha untuk membaca realitas geosfer yang terjadi dengan membicarakan , membahas, menelaah, atau menganalisis fenomena geosfer, pada sisi kedua geografis juga memberikan nilai praktis, khususnya dalam memberikan teknik- teknik pembacaan peta, atau membaca medan.Nilai ketiga geografi memiliki nilai edukatif, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor, yang mana nilai edukasi dari geografi juga sebagai bagian dari strategi pengembangan sumber daya manusia .Yang mana dalam proses pengembangan sumber daya manusia , pendekatan atau starategi yang harus dilakukan yaitu perlu untuk memperhatikan konteks ruang dan kondisi social-budaya masyarakat.Pada konteks inilah peran geografi menjadi sangat penting, Keempat , geografi juga memberikan peran dalam pengembangan nilai filsafat , misalnya dalam memahami hakekat hidup di lingkungan ini .SIstem ekologi yang kian hari kian melentur kualitasnya , perlu dipahami sebagai sesuatu hal yang bersifat filosofis .Keberadaan alam yang tidak abadi , aksi manusia dan alam, keberadaan manusia dala alam adalah beberapa nilai filosofis yang bias mengemukakan sebagai bagian dari pendidikan filsafatnya.Kelima , geografi memiliki nilai Ketuhanan.Sebagai ummat manusia , atau sebagai mahluk , yang dikaruniai budi atau akal fikiran, selain kita mengerti tentang apa yang kita pelajari, juga perlu untuk merenungi apa yang telah kita pelajari tersebut.

Dengan demikian maka para guru-guru geografi akan banyak waktu yang digunakannya dalam mewujudkan hal- hal tersebut diatas sehingga para guru mampu mendorong peserta didik untuk bisa ,berkiprah dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan peran nyata dalam kehidupan sehari- hari .Sehingga sejalan dengan Standar Isi Pelajaran Geografi SMA, yang tertulis bahwa fungsi geografi itu adalah untuk menumbuhkan sikap, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dan sumber daya serta tolenransi terhadap keragaman social budaya masyarakat.

9.Laboratorium

Sebagaimana bidang ilmu lain, ilmu Geografi juga memiliki alat ukur keruangan seperti jarak antar dua tempat, baik dalam satuan panjang, satuan nilai ekonomi dan satuan waktu, dan satuan luas (biasanya diekspresikan dalam bidang datar) dalam hektar atau km2, hasil perhitungan jumlah obyek, baik berdiri sendiri maupun dalam satuan luas (kepadatan) atau dalam satuan ratio. Di samping disajikan dalam bentuk diagram, table atau gambar profil, sarana penyajian informasi geografi paling efektif adalah dalam bentuk peta karena sebuah peta dapat memberikan penjelasan fenomena geografis dalam perspektif keruangan. Oleh karena keterbatasan media penyajian ruang muka bumi ke dalam bidang datar maka sebuah peta mensyaratkan adanya skala peta. Kita mengenal istilah skala kecil dan skala besar sesuai dengan tingkat informasi yang akan dihasilkan. Semakin besar skala peta maka informasi atau data yang dihasilkan semakin detil dan sebaliknya. Skala peta sangat tergantung pada tujuan pengguna peta. Teknik membuat peta dipelajari dalam Kartografi sebagai salah satu pelajaran inti dalam Geografi. Dengan adanya kemajuan teknologi computer saat ini dikenal teknologi GIS atau Sistem Informasi Geografi yang mampu menghasilkan sebuah peta relative secara lebih cepat dan akurat. Teknologi GIS juga dapat digunakan sebagai alat bantu analisis geografis.

Dengan melihat mata pelajaran yang tergolong eksakta seperti Kimia, Fisika,dan biologi , mata pelajaran tersebut memiliki ruiangan jika akan melakukan suatu percobaan yaitu tersedianya laboratorium, sementara mata pelajaran geografi juga tidak semua materi mampu di jelaskan lewat hanya penggunaan media semata, mata pelajaran geografi ini sangat juga membutuhkan ruangan untuk melakukan aktivitas dalam menunjang proses pembelajaran misalnya dalam praktek pembuatan peta, dalam melihat jenis batuan, yang mana salah satu contoh tersebut sangatlah dibutuhkan oleh anak didik agar tujuan dari pembelajaran mata pelajaran geografi dapat terlaksana sesuai dengan harapan dan kenyataan .

Terutama dalam melakukan pendekatan geografi dalam pengelolaan lingkungan hidup dam bencana, yang mana geografi mempelajari geosfer secara keruangan , kelingkungan, kewilayahan secara temporal.Dengan pendekatan ini permasalahan dan potensi lingkungan beserta sumber kehidupan dan bencana yang timbul ditinjau secara holistic dan sistematik.Masalah dan polusi lingkungan sertta bencana alam dipetakan atas dasar cirri spasial, ekologikal, regional,dan temporelnya.Atas dasar tipologi masalah dan potensi ekologikal, sumberdaya dan bencana, maka pengelolaan yang berkelanjutan secara geografis harus menggunakan dasar :

* Keseimbangan ekologi sesuai daya dukungnya

* Prediksi damp[ak yang merusak pelestarian lingkungan

* Produktivitas sumberdaya dan lingkungan yang kontinyu

Dengan demikian keberadaan laboratorium di SMA sangatlah dibutuhkan sama halnya dengan mata pelajaran yang tergolong dengan pelajaran yang eksakta yang sangat membantu dalam melakukan proses pembelajaran.
10. Kurangnya dukungan dari kepala sekolah untuk melakukan praktek

Lapangan

Bidang ilmu Geografi pada dasarnya mempelajari berbagai komponen fisik muka bumi, mahluk hidup (tumbuhan, hewan dan manusia) di atas muka bumi, ditinjau dari persamaan dan perbedaan dalam perspektif keruangan yang terbentuk akibat proses interaksi dan interrelasinya. Untuk mempermudah mempelajarinya, berbagai persoalan keruangan (spatial problems) dirumuskan dalam rangkaian pertanyaan : Apa jenis fenomenanya? Kapan terjadinya? Di mana fenomena tersebut terjadi? Bagaimana dan kenapa fenomena tersebut terjadi di daerah tersebut dan tidak terjadi di daerah lainnya?

Fenomena keruangan, atau fenomena geografis, baik tentang aspek fisik maupun aspek non-fisik serta interaksi dan interrelasi ke duanya, dalam proses belajar mengajar dapat dimulai dari yang paling sederhana seperti lokasi sekolah, lokasi pasar, kantor kelurahan atau kantor puskesmas, atau lokasi banjir, longsor, gempa bumi, dapat diungkap melalui pertanyaan bagaimana dan kenapa “ada” di tempat tersebut sedang di tempat lain tidak? Selanjutnya, adanya perbedaan kepadatan penduduk di wilayah perdesaan dan wilayah perkotaan, adanya perubahan pola penggunaan tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduk sebagai contoh adanya peranan manusia dalam perubahan fisik muka bumi (mans role in changing the face of the earths).

Mata pelajaran geografi membahas mengenai fenomena geosfer yaitu t6ent6ang litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer dan antroposfer kesemuanya ini haruslah kita mampu melihat keberadaan fenomena tersebut secara langsung dilapangan , maka dari itu perlulah kiranya siswa-siswa di sekolah untuk melakukan praktek lapang, dan juga mengenai materi tentang Penginderaan jauh sangatlah cocok jika kita melakukan praktek lapang yaitu ke Lapan Pare- Pare, dengan sendirinya anak-anak akan mampu melihat secara langsung bagaimana dalam penjelasan mengenai Penginderaan Jauh siswa langsung dapat melihat bagaimana proses dalam penginderaan jauh .

Tetapi kenyataan disekolah tidaklah semudah yang diinginkan bagi para guru geografi karena dukungan dari pihak sekolah tidak ada, kadang bagi para kepala sekolah memberikan alasan terutama tentang ketersediaan dana dan juga dalam pengawasan siswa karena guru- guru yang lain juga tidak mendukung dengan adanya praktek lapang ini, salah satu tugas kepala sekolah yaitu merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi, dan mengevaluasi, seluruh kegiatan pendidikan di sekolah dengan mengatur proses pembelajaran.

Ketidak mendukungnya guru-guru yang lain dalam melaksanakannya pratek lapangangan itu disebakan karena menurut mereka kegiatan proses pembelajaran bagi mereka terganggu karena jam mengajar diambil oleh kegiatan praktek lapangan tersebut sehingga mereka sangatlah tidak setuju jika praktek lapangan tersebut dilaksanakannya.

Sementara kita ketahui bahwa mata pelajaran geografi sangatlah tidak cocok jika kita hanya menjelaskan tanpa pernah memperlihatkan pada anak didik kita ,padahal kita ketahui pelajaran geografi mempelajari keaneka ragaman fenomena geosfer yang

Secara teoritis, dalam menelaah suatu persoalan keruangan, Geografi memiliki tiga pendekatan utama yaitu (1) analisis spasial, (2) analisis ekologis dan (3) analisis komplek regional sebagai gabungan dari pendekatan (1) dan (2). Pendekatan ke tiga merupakan cara yang lebih tepat digunakan untuk menelaah fenomena geografis yang memiliki tingkat kerumitan tinggi karena banyaknya variable pengaruh dan dalam lingkup multi dimensi (ekonomi, social, budaya, politik dan keamanan). Salah satu contoh adalah telaah tentang pengembangan wilayah.

Saat ini semakin dapat dirasakan bahwa perkembangan suatu daerah tertentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh daerah sekitarnya mulai dari daerah tetangga sampai daerah yang lebih jauh jaraknya bahkan pengaruh dari bagian bumi lainnya. Dampak globalisasi telah membuktikan hal itu. Oleh karena itu, wilayah sebagai system spasial dalam lingkup kegiatan pengembangan wilayah merupakan subsistem spasial dalam lingkup yang lebih luas. Sebuah kabupaten/kota, dalam kegiatan pengembangan wilayah, di samping menganalisis data spasial kabupaten/kota yang bersangkutan, juga perlu memperhatikan paling tidak bagaimana perkembangan daerah sekitarnya (interregional planning). Sebuah kabupaten/kota tidak dapat hidup sendiri dan oleh karena itu perlu mengadakan kerja sama dengan daerah tetangganya

Sehingga kita melihat bahwa ternyata pembelajaran hanya dalam ruangan saja sangatlah tidak mendukung keberhasilan suatu tujuan terutama dalam pelajaran geografi yaitu bukan hanya mampu pada sifat kognitif, namun mampu membertikan kesadaran geografis dan keterampilan geografis bagi pesertya didik, yang semua ini dapat terlaksana atau terwujud yaitu dengan memlihat langsung segala fenimena geosfer dan hubungan interaksi timbal balik..



KESIMPULAN

10 Problematika pendidikan yaitu :

1. Metode

2. Media

3. Penguasaan materi

4. Kurangnya pelatihan bagi guru

5. Kurangnya penguasaan terhadap pemanfaatan Tehnologi Informasi dan Komunikasi

6. Evaluasi / penilaian

7. Pengelolaan kelas

8. Alokasi waktu

9. Laboratorium

10.Kurangnya dukungan dari kepalasekolah dan pihak sekolah untuk praktek lapangan.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Sample Widget